loading...

Melakukan Diet Sosial Media

Pengalaman saya  dalam melakukan social media detox atau diet sosial media atau puasa sosial media

Saya ingin berbagi cerita dengan teman – teman kenapa saya melakukan social media detox atau diet sosial media atau puasa media sosial.

Tepatnya tahun 2018 saya mulai sadar, ada yang tidak beres dengan hidup saya. Sudah bertahun – tahun saya kecanduan sosial media. Tidak tahu berapa kali saya membuka sosial media hal ini dikarenakan  karena saya mempunyai banyak sosial media dan  facebook salah satunya. Dulu semasa duduk dibangku kuliah saya sangat senang bermain friendster. Media sosial yang sedang booming pada sa’at itu.Media sosial untuk pertemanan sama seperti facebook sa’at ini.Nanti saya cerita lebih detail tentang friendster Namun friendster sama sekali tidak mempengaruhi hidup saya karena pada sa’at itu belum ada smartphone seperti sekarang ini, dimana kita sulit untuk melepaskan diri dari smartphone. Jika saya ingin membuka friendster maka saya harus pergi ke warnet ( warung internet ) tempat yang jarang dikunjungi anak – anak jaman sekarang bahkan sekarang warnet hanya dipakai untuk anak – anak atau orang – orang yang ingin bermain games. Ampai akhirnya friendster mengalami gangguan disana tertulis bahwa friendster sedang mengalami perbaikan sistem karena banyaknya perminta’an orang – orang yang ingin bergabung di site itu. Namun rupaya tidak sampai disitu saja , saya mulai menjelajah internet dan menemukan beberapa sosial media lainnya dan salah satunya yakni ta****( saya tidak merekomendasikan site ini karena banyak orang ga benernya daripada orang benernya ),sama seperti dua media sosial yang saya sebutkan diatas namun menurutku yang ini lebih menarik karena jejaring sosial ini menyediakan templet yang menarik dan beraneka macam serta mempunyai jaringan pertemanan yang lebih luas dan tidak banyak orang indonesia yang bergabung disite ini, jadi sebagaian besar teman – teman saya berasal dari negara lain. Sampai akhirnya pada tahun 2008 facebook booming dan teman – teman saya  beralih ke facebook  kemudian meninggalkan friendster sedangkan saya tetap setia menunggu perbaikan dari friendster. Tepat tahun 2009 sa’at sedang mencari bahan untuk skripsi di warnet , teman saya wahyu  namanya menghampiri saya dan meminta saya untuk membuat facebook , saya tidak berminat karena menurut saya tampilannya tidak menarik. Tapi wahyu terus membujuk saya , dia bilang setelah lulus dia bisa tetap tahu begaimana kabar saya nanti karena kami semua akan pulang ke kota asal kami masing –masing. Yah, wahyulah yang  membuatkan akun saya di facebook. Friendster kini berubah menjadi site untuk games dan semua pengunjungannya meninggalkannya dan beralih ke facebook termasuk saya. Facebook memang menyenangkan awalnya disana kita bisa saling bertegur sapa , bercanda dengan teman- teman yang jauh dan sudah lama tidak bertemu didunia nyata . saya juga tidak malu untuk memasang foto – foto lucu, status – status lebay atau melakukan hal yang bisa membuat kami bisa bercengkrama walau di dunia maya. Pada tahun 2012 saya pindah ke kota lain dan mengajar di sekolah SMK swasta di kota itu, siswa saya adalah anak remaja yang sedang senang- senangnya menggunakan sosial media dan tak pernah lepas dari smatphonenya sama seperti kebanyakan anak remaja lainnya. Banyak sekali permintaan teman dari mereka sementara saya tidak suka jika ada siswa yang berteman dengan saya di sosial media alasannya satu saya tidak mau mereka tahu lebih banyak tentang pribadi saya, saya hanya berteman dengan teman – teman  dan beberapa rekan kerja saja. Disana adalah tempat dimana saya bisa seru- seruan dengan teman – teman. Saya tidak ingin mereka melihat saya disana sama seperti saya di dunia nyata. Didunia nyata, hubungan kami adalah antara guru dan siswa, dan saya tidak ingin siswa saya tahu gilanya saya hebohnya saya sa’at bersama teman – teman saya.  Tahun 2013 saya kehilangan akun facebook ( tidak hilang lebih tepatnya lupa pasword dan nomer posel sudah ganti serta sudah tidak aktif lagi serta ponsel yang saya pakai rusak sementara saya tidak pernah log out dari facebook. seperti yang saya ceritakan diatas kita sering buka facebook kapanpun selama ponsel dalam genggaman ), jadi saya membuat akun facebook baru di tahun 2013. Seiring berjalannya waktu facebook mengalami banyak perubahan saya bergabung di beberapa grup seperti grup MGMP, grup sekolah, grup loker dll serta mengikuti beberapa fans page untuk mengikuti beberapa  artikel yang menarik karena saya memang suka membaca. Saya mulai mengkonfirmasi pertemanan dengan siswa karena saya menjadi wali kelas dan tujuannya tentu saja mengawasi mereka ( wakakkkkkkk ), saya mulai menata apa – apa saja yang patut untuk diupload , menata kalimat yang pantas untuk status dan mengurangi lelucon – lelucon konyol dengan teman – teman saya. Facebook semakin menarik banyak artikel yang hilir mudik sehingga saya bisa membaca banyak artikel menarik dan it’s fun I think. Komentar di status teman menjadi  lebih sopan, banyak informasi penting dan menarik yang di share teman – teman, banyak teman – teman yang jualan disana dan ada sebagain dari mereka yang dagangannya saya beli. Lalu saya mulai menata album foto- foto saya disana. Saya mulai memperhatikan mana foto yang patut di upload mana yang tidak, yang awalnya saya bisa  upload foto apapun sekarang saya mulai mengunggah foto yang layak yang tidak banyak kontroversi seperti menggunggah foto yang hanya memakai hijab saja karena sebenarnya saya sering buka tutup hijab.semuanya terlihat baik semuanya positif yah apapun yang ada disana semuanya baik. Kenapa saya menggunakan facebook ? jawabannya berubah yang tadinya untuk ajang silaturahmi kini menjadi karena saya butuh facebook, disana saya menemukan banyak hal - hal penting seperti informasi dll  serta hal  positif lainnya dan saya menikmatinya. Facebook adalah bagian dari hidup saya, gaya hidup saya. Saya mengunggah foto- foto menarik tentang kegiatan saya. Seperti kegiatan disekolah , dengan keluarga, sedang piknik, hang out bareng teman. saya menjadikan album facebook sebagai album pribadi saya yang kapanpun bisa saya ambil untuk dicetak. Lama - kelamaan saya sering menghabiskan waktu berjam- jam ketika membuka situs pertemanan ini. Setiap hari, waktu saya menjadi tidak produktif . saya masih mengajar seperti biasanya , saya masih memberikan les privat untuk tambahan penghasilan namun untuk waktu luang hanya digunaan untuk ini. Seiring bertabahnya usia saya , teman – teman saya mulai satu persatu menikah dan mempunyai anak sementara saya masih seperti ini, teman – teman, orang tua , keluarga dan orang – orang disekitar saya mulai membicarakan saya, saya merasa insecure, merasa gagal, tidak percaya diri sementara saya tidak ingin terlihat menyedihkan seperti itu. Saya mulai mencoba mengunggah hal – hal yang menyenangkan hanya bagian terbaik dari hidup saya saja yang saya unggah karena saya tidak mau kalah dengan orang – orang yang ada disana . disana ada teman saya, saudara, rekan kerja, siswa bahkan mantan- mantan pacar saya. Saya ingin menunjukkan pada semua orang bahwa saya baik – baik saja, saya bahagia. Namun, saya tidak bahagia. Saya mulai membandingkan kehidupan orang – orang yang ada disana dengan kehidupan saya. Saya merasa insecure, gagal, kurang beruntung, dan cemas. namun saya tetap tidak mau kalah saya bersikap seolah – olah saya bahagia. Saya depresi dan saya tahu  itu, saya lebih nyaman didunia maya daripada di dunia nyata saya sadar ini tidak benar tapi sekali lagi saya tidak peduli. Saya butuh itu, saya merasa senang sa’at saya masuk dan menghabiskan waktu disana. Sampai akhirnya saya mulai lelah dengan facebook grup kota kelahiran dan kota tempat tinggal yang  sering yang mengunggah foto – foto mengerikan seperti kecela’an atau kasus – kasus kriminal, postingan – posting kontroversi yang berseliweran, debat politik dan adu argumen sampai cacian – cacian yang ditujukan satu sama lain tentang tokoh politik mereka, informasi – informasi yang simpang siur yang tidak tahu benar tidaknya, semakin banyak teman yang berjualan disana mereka hanya peduli dengan jualan mereka bukan teman – teman mereka , banyak iklan, banyak orang – orang yang berlomba – lomba show up dan mulai egois serta mulai acuh dengan penghuninya dan belum lagi foto- foto kita bisa diambil orang dengan mudahnya. Tak lagi ada sapa’an, tak ada lagi komentar yang membawa pada obrolan ringan. Semuanya hanya peduli dengan dirinya , eksis istilahnya saya mulai lelah sangat lelah hingga akhirnya saya memutuskan untuk diet sosial media . dan dimulai dari saya mengambil semua foto – foto- foto saya di sana, mengganti foto profil saya dengang gambar kartun yang kemudian saya simpan di laptop lalu  saya menghapus aplikasi facebook di smartphone saya. Awalnya saya tidak biasa saya bahkan bolak balik instal aplikasi tersebut , hapus instal, hapus instal begitu saja terus , saya cemas bagaimana kabar facebook saya, apa ada pesan untuk saya disana?, apa ada informasi disana ?. ada berita apa ? apa yang sa’at ini sedang viral ?bagaimana kabar teman – teman disana ? apakah mereka mencari saya? dll. Namun saya sudah berkomitmen untuk puasa sosial media ,mulai dari beberapa  jam, beberapa hari, beberapa minggu hingga  beberapa bulan dan sekarang sudah 2 tahun tidak ada aplikasi facebook di handphone saya. Terakhir saya membukanya 3 bulan yang lalu dengan laptop saya  itupun hanya beberapa menit saja .saya masih mempunyai facebook namun saya membatasinya. Saya hanya membukanya ketika ingin membukanya saja.

 Mau tahu rasanya? Rasanya nyamaaan sekali ...

Saya jadi merasa hidup secara utuh di dunia nyata, lebih fokus pada hidup saya, lebih bersyukur, lebih nyaman, lebih ringan, dan ketika ada waktu luang , saya bisa menggunakan waktu luang saya menjadi lebih produktif, bisa bercengkrama dengan keluarga,  belajar bahasa baru, aktif menulis blog lagi, membaca buku, merenung, hang out bareng teman, menelpon orang tua atau teman yang jauh, menulis dibuku diary dan lain lain, segala kegiatan yang sudah lama tidak saya lakukan.

 Semakin lama saya memikirkan untuk  membukanya semakin saya cemas untuk masuk kembali. Saya takut kehilangan kenyamanan saya ini. Nah seperti itu pengalam saya melakukan diet mdia sosial.

Apakah teman –teman  ingin mencoba diet sosial media seperti saya ? .

Apa tujuan teman – teman ingin melakukan diet media sosial?

Apakah teman – teman punya penagalaman seperti saya ?

Tulis di kolom komentar ya .

Salam sehat

 

Jangan lupa bahagia

 

 

0 Comments

Leave a comment